When there is a will there is a way
Sunday, July 20th, 2008Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar.
Dosen saya dulu pernah bilang, setiap lima tahun sekali kita harus mempelajari sesuatu yang baru agar sinaps-sinaps di otak kita senantiasa bekerja dan bertambah banyak. Terbukti, beliau masih aktif mengajar di usianya yang lewat kepala tujuh, hebat!
Contoh hidup yang juga menakjubkan adalah promotor saya, beliau meraih gelar PhD di usianya yang ke-60. Walau rambutnya sudah memutih, tapi beliau punya semangat dan rasa ingin tahu yang luar biasa, termasuk mempelajari program statistik yang njlimet untuk sebagian banyak orang.
Ayah saya sendiri baru mulai memasuki bangku universitas ketika saya duduk di bangku SD. Saya masih ingat saat membuat skripsi ayah saya setiap pagi menginstruksikan ibu saya untuk mengetikkan tesisnya dengan mesin tik yang sampai saat ini masih setia menemani ayah saya bekerja. Setiap malam sepulang kerja ayah akan mengkoreksi apa yang sudah diketik oleh ibu. Begitu terus sampai akhirnya beliau berhasil mendapatkan gelar sarjananya.
Terakhir, yang membuat saya tergerak untuk membuat blog ini adalah sms dari seorang teman, tepatnya seorang kakak yang telah banyak membantu saya saat saya masih bergelut dengan dunia klinik beberapa tahun ke belakang. Tepat lima tahun lalu, saat usianya juga di mid-thirties, ia mulai memasuki bangku universitas. Kuliah sambil bekerja. Pergi pagi pulang malam, seperti ayah saya. Dan tidak sia-sia, bulan ini dia berhasil meraih gelar sarjananya. Malahan dia sudah melamar untuk melanjutkan program pascasarjana di UI. Motivasinya mulia, mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang guru. Insya Allah terlaksana…
Jadi kesimpulan saya, when there is a will there is a way, as simple as that…