Woman of the year
Sunday, February 11th, 2007
Kalau TV Canada belakangan marak dg penganugerahan penghargaan di industri musik dan perfilman, mulai Golden Globe sampai Oscar, maka saya mau ikut memberi nominasi untuk pahlawan-pahlawan dalam kehidupan kita, yang seringkali tidak mendapat apresiasi atas jasa-jasa yang mereka berikan…
Kalau beberapa waktu lalu saya menominasikan Pak Sugimin, yang rela menuntun sepeda motornya menyebrangi genangan air setinggi pinggang selama musim hujan demi mengajar murid-muridnya di sekolah, kali ini saya menominasikan Soraya sebagai woman of the year!
First question, who is she? Selesai dari program master double degree IHS Rotterdam akhir tahun 2005 lalu, Soraya tak lebih dari seorang pegawai yang bekerja di Jakarta dan seorang ibu dari seorang putra yang bertempat tinggal di desa Puton, Bantul, Jogja. Dari sini saja saya sudah berpikir betapa beratnya hidup yang harus dijalani oleh Soraya dan keluarga. Hampir setiap akhir pekan atau paling tidak dua minggu sekali Soraya pulang ke Jogja untuk berkumpul dengan anak dan suami. Sampai sabtu 27 Mei 2006 dini hari, gempa mengguncang Jogja. Soraya dan sekeluarga mengucap syukur karena mereka sekeluarga selamat, walau rumah rata dengan tanah. Kepala dusun Puton wafat akibat gempa dan sejak hari itu Soraya memulai peran barunya memimpin warga desa melewati masa krisis dan merekonstruksi kembali desa mereka pasca gempa..

So, why Soraya? Sebagai satu-satunya warga desa yang punya network kaliber nasional dan internasional yang memungkinkan masuknya bala bantuan untuk korban gempa, Soraya yang saat itu tengah hamil 3 bulan memulai dengan mengkoordinasi penyaluran bantuan medis, penyediaan tenda darurat, dan sekolah darurat. Saat kehamilan memasuki usia 7 bulan, bersama tim arsitek Bambu Tak Gentar, Soraya bersama warga membangun kembali 3 mushola dan masjid untuk menyambut Ramadhan dan Idul Fitri. Alhamdulillah di malam takbiran ketiga mushola dan masjid tegak berdiri dan dipadati oleh penduduk yang memanjatkan puji-pujian kehadirat Allah SWT…
Hingga detik-detik menjelang kelahiran, Soraya bersama Tim Cordaid IHS mengejar target pembangunan 200 rumah darurat sebelum musim hujan tiba, "Kasihan kalau saat hujan turun warga masih tinggal di tenda, repot… Walau sekarang gerak saya agak terbatas karena hamil tua," katanya. Alhamdulillah tanggal 8 Desember, Soraya melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat. Tapi tidak sampai seminggu berdiam di rumah, bayi itu menjadi saksi kesibukan sang ibu mendistribusikan semen dan material untuk pembangunan 200 WC untuk warga, subhanallah… Mungkin tidak ada istilah lelah di dalam kamus seorang Soraya.
So, when you’re feeling blue, when life seems so hard because there are so many unsolved things, try to remember these great people who devote their lives for others and never complain about their own problems.
"Saya hanyalah seorang pelaksana amanah…", ucap Soraya
"Selama saya masih diberi kesehatan, saya hanya mengerjakan apa yang bisa saya kerjakan, alhamdulillah kalau bermanfaat untuk orang lain, sayang kan kalau kita tidak berbuat apa-apa…", ucap Pak Sugimin


