Pak Sugimin, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Sunday, January 28th, 2007Pak Sugimin adalah guru
matematikaku di SMP dulu. Lelaki setengah baya ini berpenampilan sederhana,
dengan kacamata dan baju safari, sebagaimana umumnya seorang guru di sekolah menengah
negeri. Bagi sebagian besar murid-muridnya, Pak Sugimin cukup disegani. Bukan
hanya karena matematika adalah pelajaran yang sulit dan membuat dahi
berkerut-kerut, tetapi beliau punya ekspektasi yang besar terhadap
murid-muridnya.
Kadang beliau tak tahan
menumpahkan rasa kecewanya saat nilai ujian kami anjlok. Masih kuingat waktu
pertama kali berkenalan dengan rumus tangen-sinus-kosinus, mungkin saking
frustasinya melihat hasil ulangan murid-muridnya, beliau berkata, “Wah, kalau
begini kalian cuma bisa jadi supir becak! Kalau kalian mau jadi pilot pesawat harus
ngerti rumus-rumus ini!!” Tentu saja keluh-kesah beliau dianggap angin lalu
oleh murid-muridnya yang baru memasuki masa puber. Saat itu rasanya lebih
menarik menghapalkan lirik step-by-step
New Kids on the Block, ketimbang mencoba memahami mana yang disebut sinus mana
yang kosinus…
Tapi bukan itu saja yang membuat
Pak Sugimin patut dikagumi. Belakangan kutahu kalau Pak Sigimin sudah lebih
dari 15 tahun mengelola SMP terbuka. Bersama beberapa orang guru, Pak Sugimin
bekerja ekstra untuk mengumpulkan dana dan mengajar anak-anak dari golongan tidak
mampu, tapi memiliki semangat tinggi untuk sekolah. Mereka ini anak-anak yang
sehari-hari berjualan koran, mengamen di pinggir jalan, menyemir sepatu,
berjualan di pasar, jadi kuli angkut, dan buruh kasar lainnya. Mereka yang
punya angan-angan mendapatkan ijazah SMP untuk sekedar bisa melamar sebagai office boy atau janitor di perkantoran.
Mereka yang punya angan-angan untuk bisa memperbaiki status keluarga dan tidak
dianggap sebagai sampah masyarakat…
Tidak ada yang meminta Pak
Sugimin untuk bekerja dobel tanpa bayaran. Saat beliau hanya berkewajiban
mengajar di pagi hari, maka beliau menghabiskan waktu sorenya untuk mengajar di
sekolah terbuka. Kalau hari-hari kerja tidak lagi memungkinkan, maka hari sabtu
dan minggu beliau abdikan untuk sekolah terbuka. Hebatnya lagi, tidak hanya
matematik, tapi beliau bisa mengajarkan mata pelajaran apapun, karena tidak
jarang guru yang bersangkutan berhalangan hadir. “Saya tidak tega kalau mereka
datang sementara tidak ada guru yang mengajar,” tuturnya.
Hingga hari ini Pak Sugimin
tetap setia mengabdikan hidupnya untuk mereka, murid-muridnya. Kebanggaan jelas
terdengar saat beliau berkata, “Tahun ajaran ini ada 79 murid dan semua
mendapatkan baju seragam, tas dan perlengkapan menulis, dan buku ajar. Untung
guru-guru di sekolah kita tidak berkeberatan ruang kelas dipakai untuk sekolah
terbuka di sore hari. Pendanaan memang tidak selalu mudah, tapi insya Allah
kami akan terus berusaha.”
Tidak ada yang memberi beliau
penghargaan atas ratusan murid yang akhirnya berhasil mendapatkan ijazah.
Memang bukan penghargaan semacam itu yang beliau harapkan. “Kebahagiaan saya
adalah saat mereka datang dan mengatakan mereka sudah bisa bekerja formal
dengan bekal ijazah yang mereka dapatkan,” kata beliau dengan mata berbinar
saat menceritakan pengalaman mantan murid-muridnya yang sudah berhasil.
“Beberapa dari mereka yang sudah lulus berusaha membantu pendanaan sekolah
terbuka semampu mereka. Saya sangat bangga terhadap mereka…”
Pak Sugimin dan guru-guruku,
engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Suri tauladan yang
nyata. Putih rambutmu tidak menghalangimu untuk terus mengabdi kepada kami,
murid-muridmu. Semoga Allah membalas pengabdian dan keikhlasan kalian dengan
surga, insya Allah…
Note: Pak Sugimin mengajar di SMPN
158 Pulogadung, Jakarta Timur dan SMP terbuka di sekolah yang sama.