Archive for June, 2006

Faith…

Sunday, June 25th, 2006

Kurang lebih tiga minggu lalu saya diminta mengisi suatu kuesioner tentang sejauh mana pengetahuan keislaman dan ibadah saya. Setelah mengisi kurang lebih 80 item pertanyaan, saya merasa kalau ada penggolongan, maka saya cuma masuk golongan yang
paling standard, percaya rukun iman dan menjalani rukun Islam. Pengetahuan tentang sejarah islam hampir bisa dibilang nol besar, semua didapat waktu pelajaran agama di sekolah jaman sd smp smu dulu yang sekarang sudah menguap entah sekian puluh persen. Baru saya sadari kalau waktu yang saya habiskan untuk mempelajari dan mempraktikkan ilmu dunia  dibanding dengan ilmu akhirat sangat jomplang, padahal semua orang juga tahu kalau hidup di dunia cuma hitungan puluhan tahun. Bagaimana pertanggungan jawab saya kepada Zat Yang Maha Pemurah yang telah memberikan saya kesempatan untuk bisa menjadi apa yang sudah saya capai sejauh ini… 

Di hari yang sama saya juga merenung, teringat hari yang saya sadari belakangan sebagai hari yang paling menentukan dalam hidup saya. Dibesarkan oleh ayah yang beragama Hindu dan ibu yang beragama Islam, saat berumur 12 tahun saya memutuskan untuk memilih Islam.  Menjelang EBTANAS SD, wali kelas saya bertanya,
"Eva sebenarnya agama kamu itu Hindu atau Islam? Soalnya orang tua kamu
selalu tulis agama Hindu di profil raport kamu, tapi di sekolah kamu
ikut agama Islam". Namanya anak SD ditanya begitu, ya, saya bingung. Tapi
karena saya dan adik-adik dibesarkan di keluarga ibu dan selama itu
tahu lebih banyak tentang Islam, jadi saya beranikan diri bilang ke
bapak saya, "Pak, mulai sekarang Eva pilih agama Islam saja ya, soalnya
ditanya wali kelas nih untuk EBTANAS". Saya masih ingat reaksi beliau saat itu. Mula-mula Bapak diam saja, lalu pergi
seharian. Sore harinya beliau pulang sambil membawa hadiah jam
tangan untuk saya, "Iya, tidak apa kamu  pilih agama Islam".

Lagi-lagi dengan keluguan pikir seorang anak SD, saya merasa lega karena pertanyaan sudah terjawab, dan mulai saat itu saya tidak perlu pusing kalau ditanya guru apakah agama saya Islam atau Hindu. Tapi hari itu saya berpikir bagaimana galaunya perasaan dan keras berpikirnya bapak saya sebelum memutuskan memberikan anaknya kebebasan untuk memilih agama yang diinginkannya… Bagaimana kalau saya yang berada di posisi bapak saya saat itu, mungkin saya akan sangat marah atau sangat sedih karena anaknya tidak memilih mengikuti kepercayaan yang diyakininya… Subhanallah, saya dan adik-adik tidak pernah menangkap perasaan galau itu. Bapak saya benar-benar menanamkan toleransi seperti yang tersirat dalam surat Al Kafirun, "…untukmulah agamamu, untukkulah agamaku…"

Setiap bulan ramadhan, bapak selalu  sibuk membelikan macam-macam kudapan untuk berbuka dan mengingatkan ibu agar anak-anak tidak sampai sakit. Baru saat masuk perguruan tinggi saya melihat raut sedih di wajah bapak saat Idul Fitri. Saat kami pulang dari sholat Ied dan merayakan lebaran bersama keluarga ibu, bapak memilih untuk tinggal di rumah menyendiri… Baru pertama kalinya saya merasakan kesedihan dan kesendirian beliau… dan membuat saya sadar betapa besar pengorbanan yang beliau berikan untuk kami anak-anaknya…

Bulan Februari lalu saat berlibur ke Jakarta, bapak baru bercerita, "Kalian tidak tahu, saat kalian masih kecil bapak dipertanyakan oleh keluarga bapak karena membiarkan kalian semua masuk Islam. Tapi bapak bilang, ini keluarga saya, tanggung jawab saya… Bapak tidak pernah menyesal dengan keputusan yang bapak ambil, waktu itu bapak hanya pikirkan kemudahan untuk kalian kelak… Dan bapak bersyukur, walaupun kita berbeda, kalian menjadi anak-anak yang baik…"

I am typing this with teary eyes… To my father, I don’t know how we should thank you for all your love, sacrifice, and understanding… Our story is like story of some prophets with their respectfull father or beloved ones who differed in believes… I beg You, The All Knower,  in whom I have my faith, please show me, the people I love, and the people You love the righteous way, amiin…

You Can’t Hurry Love

Sunday, June 18th, 2006

NIce lyric by Diana Ross (later was sang by Phil Collins). Thanks for Teddy who sent it to me, je bent heel erg aardig man, bedankt voor alles!

Diana Ross
You Can’t Hurry Love

I need love, love
To ease my mind
I need to find, find someone to call mine
But mama said

You can’t hurry love
No, you just have to wait
She said love don’t come easy
It’s a game of give and take

You can’t hurry love
No, you just have to wait
You got to trust, give it time
No matter how long it takes

But how many heartaches
Must I stand before I find a love
To let me live again
Right now the only thing
That keeps me hangin’ on
When I feel my strength, yeah
It’s almost gone
I remember mama said:

You can’t hurry love
No, you just have to wait
She said love don’t come easy
It’s a game of give and take

How long must I wait
How much more can I take
Before loneliness will cause my heart
Heart to break?

No I can’t bear to live my life alone
I grow impatient for a love to call my own
But when I feel that i, I can’t go on
These precious words keeps me hangin’ on
I remember mama said:

You can’t hurry love
No, you just have to wait
She said love don’t come easy
It’s a game of give and take

You can’t hurry love
No, you just have to wait
She said trust, give it time
No matter how long it takes

No, love, love, don’t come easy
But I keep on waiting
Anticipating for that soft voice
To talk to me at night
For some tender arms
To hold me tight
I keep waiting
I keep on waiting
But it ain’t easy
It ain’t easy
But mama said:

You can’t hurry love
No, you just have to wait
She said to trust, give it time
No matter how long it takes

You can’t hurry love
No, you just have to wait
She said love don’t come easy
It’s a game of give and take

FAMILY

Sunday, June 18th, 2006

Me_and_shuwens_fam_1June 15th was an important day for my roomate Shuwen, since her beloved daughter (Danyang) and husband (Mr Hoea) would come all the way from China. After not less than 2 months waiting and struggling with the documents for visa application, finally she could happily pick them at Schiphol airport on a sunny noon. When I returned home , 1 hour before they came from the airport, there were already delicious chinesse dishes on the table. Shuwen had never been happier than that day.

Though Shuwen keeps on saying that she prefer not to have child because she couldn’t bare to let her child lives in difficulties in this harsh world, but on the other hand it reflects how deep is her love for her child that she doesn’t want her to suffer in her entire life. Family, which is the abbreviation of "Father And Mother, I Love You" indeed is the most important element of someone’s life. Shuwen’s happiness is what everyone desires. To be loved and to share your love with the peopple you love the most… Bapak, Mama, Santhy, dan Sherley, how I miss you all…