Archive for May, 2005

My Diary, 12 days Trip to Italy, Netherlands and Paris with Santhy

Sunday, May 1st, 2005

Dalam rangka liburan adik gue, Santhy, gue merancang trip ke beberapa kota di Italy, Paris, dan tentu saja keliling Belanda. Kamis 28 Apr Santhy sudah kembali ke Jakarta (hiks), dan baru sekarang gue sempat ketik catatan perjalanan 12 hari yang seru!! Beware karena panjang banget  ada 3 part: italy, netherlands, dan paris. But, enjoy!

Jumat, 15 April Jemput Santhy di Schiphol jam 07.00. Terima kasih untuk Vica dan Mukti yang sudah beri tumpangan menginap tgl 14 Apr malam di Amsterdam Amstel! Wah, senangnya melihat Santhy di Schiphol sejak terakhir ketemu di bandara CKG tgl 30 Nov lalu. Nggak nyangka sama sekali karena awalnya cuma ngobrol iseng-iseng di email bulan Pebruari. Tujuan kedatangan sebenernya untuk menghibur gue yang broke up Januari lalu(hiks) dan untuk rayain ultah gue bulan April 

No time for jet lag, Santhy langsung gue ajak ke Volendam, kota nelayan yang terkenal banget dengan foto dalam kostum tradisional Belanda dan souvenir yang aneka ragam dan murah! Karena masih pagi udara masih segar banget; turis juga belum banyak! Gue akhirnya pilih Foto de Boer (di etalasenya ada foto Rima Melati, Joshua dan Tasha hehehe…). Mungkin karena masih sepi gue dan 000_0750_2Santhy jadi costumer pertama dan foto selesai cetak dalam 15 menit dengan hasil yang bagus banget! Kita juga sempat foto-foto dengan digital sendiri sampai puas 

Jam 2 sudah kembali ke Amsterdam CS dan langsung ke museum van Gogh. Ternyata riwayat hidupnya tragis! Lahir tahun 1853, Van Gogh meninggal tahun 1890, suicide… Aliran pointilisme-nya yang ngetop banget baru dimulai tahun 1885, dengan tema-tema yang sederhana mulai dari ‘still live with onion’, sampai ‘self potrait, dan bedroom’.

Setelah terdiagnosis schizophrenia lukisannya memang makin aneh dan absurd, at least itu menurut gue yang bukan tipe orang yang bisa menikmati lukisan abstrak hehehe… Jam 4 sore santhy sudah exhausted, so we decided to go home and have some rest. Prepare for Italy!!!

Part I. Trip to Italy: up and down, but exciting journey!

Venice, here we come… Jam 5 siang sampai di bandara udara Treviso, Venice. Such a small airport, nggak ada pemeriksaan passport, ada 1 polisi yang cuma kasih petunjuk jalan keluar hehehe… Dari Treviso gue dan Santhy naik Eurobus ke Stasiun KA Santa Lucia. Naik boat menyusuri Grand Canal mengingatkan pemandangan di Tanjung Priok, soalnya sama-sama kusam  Bedanya di Venice kanal tetap bersih, nggak ada sampah mengapung…

Sampai di Rialto Bridge, jembatan monumental Venice, langsung foto-foto. Sebenarnya jembatannya biasa aja, tapi pemandangan dari atas jembatan itu yang cantik banget… Apalagi sudah sore langit mulai kemerahan, gedung-gedung tua dengan jendela kayu di sepanjang kanal jadi kelihatan antik, belum lagi gondola dan boat yang hi000_0762lir mudik di sepanjang kanal…

Malam pemandangan lebih cantik lagi dengan lampu-lampu temaram sepanjang kanal. Resto-nya bagus-bagus dan cozzy, tapi harga paket menunya lumayan. Akhirya gue dan Santhy dinner lasagna bolognesse di resto kecil :)

Bologna…

Jam 11 meninggalkan Venice, naik kereta ke Bologna Centrale. Nyesal juga karena tidak bisa explore Venice lebih lama. Jam 12 sampai di Bologna kita langsung ke city centrum Piazza St Petroneus. Wah, bagus banget, nggak nyesel deh mampir 5 jam di kota ini!! Apalagi yang suka lihat bangunan abad pertengahan bisa puas banget jalan di sepanjang town square-nya.

Baru terasa kalau Italy itu negara dengan 98% penduduk katolik, soalnya dimana-mana ada gereja… Setiap town square pasti ada gereja-nya yang dibuat megah dan nyeni banget! Di sini juga ada universitas tertua di Italy, sayang waktu tidak memungkinkan untuk intip seluruh kota. 000_0776 Menurut buku panduan, sebenarnya Bologna itu lebih terkenal dengan makanannya! Gue dan Santhy lunch tortelini dengan jamur dan hmmm really tasty!

Kita juga sempat mampir ke Piazza Septembre, monumen dan puing benteng peringatan perjuangan Bologna. Gue jadi mikir sebenernya di Jakarta kita juga punya monumen Lubang Buaya, atau museum di TMII dan Monas yang nggak kalah bagus, tapi kenapa kita lebih interest lihat punya negara lain yah? Wah, nasionalisme jadi dipertanyakan nih 

Florence…

Jam 7 sore gue dan Santhy sudah ada di stasiun KA Santa Maria Novella, di Firenze atau Florence! Catatan penting untuk kota ini adalah traditional marketnya, tapi jangan salah soalnya isinya bukan makanan tapi baju, jaket, dan kulit yang keren-keren dan murah! Sayang, karena kurang berpengalaman jadi nggak spare uang untuk beli baju 

Florence waktu malam gelap… bukan tipe kota metropolitan. Jadi gue dan Santhy cuma mampir ke Piazza Duomo yang kebetulan dekat hostel. Del Duomo adalah gereja terbesar di Florence yang dibangun pada abad pertengahan. First impression untuk gereja ini: extremelu huge!!! Gue dan Santhy sibuk banyangin berapa abad mereka bisa selesaikan konstruksi gereja ini, dan berapa ribu budak yang dipekerjakan…

Florence kota kecil jadi tourist attractionnya sambung-menyambung dan tidak terlalu berjauhan. Dari puncak Del Duomo (capulo) para turis bisa lihat pemandangan kota Florence. Tapi gue dan Santhy pilih yang gratisan, alias jalan kaki ke Piazza Michelangelo 

000_0781Berdasarkan petunjuk staf hostel, kita berdua jalan dari Piazza della Republica ke Piazza della Signoria. Subhanallah, square ini keren banget!!! Ada patung David, the first nude statute, yang memang jadi trade souvenir Florence. Di sebelah kanannya ada Galeri Degli Uffizi, salah satu museum dengan koleksi seni terlengkap di dunia, sayang masih tutup karena terlalu pagi…

Jalan kaki masih berlanjut lewat jembatan Ponte Alle Grazie ke Piazza Poggi. Di sini mulai menanjak sekitar 200 meter ke Piazzale Michelangelo. Capek tapi worthed soalnya you’ll find the most beautifull view of Florence!!!

000_0789Di sini ada patung perunggu asli David dan taman bunga yang cantik. Tapi gue dan Santhy heran karena isinya tulip semua, padahal bukan di Keukenhof Belanda lho hehehe…

Pisa, the leaning tower…

Sejak nonton film Superman III gue selalu berpikir pasti asik kalau gue bisa naik the leaning tower Pisa! Alhamdulillah towernya akhirnya ada di depan mata. Dari pintu masuknya di kompleks Campo dei Miracolli kita bisa lihat Baptistery, Duomo, dan the leaning tower, all in one dengan latar belakang langit biru bersih, bagus banget like real painting!!!

Tapi reaksi si Santhy beda: dia bilang kok menaranya pendek banget hehehe… Memang cuma 55 meter alias setengahnya Monas! Karena menaranya doyong 2mm/tahun (maklum peninggalan abad 12) jadi yang naik dibatasi alias harus bayar. Gue dan Santhy cukup foto-foto di depannya aja  000_0791

Oya, beda dengan kota lain, toko souvenir berjejer di sepanjang halaman kompleks dengan harga yang relatif sangat murah! Kalau mau beli oleh-oleh khas Pisa nggak usah bingung! Tapi karena nggak ada yang lain yang bisa dilihat di Pisa, dalam 3 jam perjalanan berlanjut ke kota terakhir: Roma!

Roma, amazing…

Jam 10 pagi gue dan Santhy sudah sampai di St Pietro square, Vatican. This square is magnificient!!! Nggak kebayang kalau 2 minggu sebelumnya jutaan orang kumpul di square ini. Pagi itu juga banyak crew tv all around the world yang lagi tunggu asap putih keluar dari cerobong asap vatican untuk pemilihan Pope baru. 000_0795 Setelah cari info dari crew tv Belgium yang sudah nongkrong 2 hari di sana, gue dan Santhy memutuskan untuk lanjut ke Colloseum 

000_0803Dalam perjalanan ke Colosseum kita berdua mampir sebentar Piazza Vitorio Emanuele yang sebenernya kompleks makam pahlawan tak dikenalnya Italy. Wah, jadi ingat Taman Makam Pahlawan Kalibata (ayo siapa yang udah pernah ke sana???). Bedanya yang ini dibuat monumental banget deh!! Apalagi lokasinya di kompleks reruntuhan abad awal masehi, bersebelahan dengan Roman Imperium dan Colosseum…

000_0800After lunch next stop was Colosseum. This time I had to say wow!! Bagi yang pernah nonton the Gladiator, atau penggemar komik Asterix-Obelisk, waktu lihat ruang-ruang tahanan di bawah lapangan adu di Colosseum bakal terbayang kekejaman para raja dan kaum elit di abad awal masehi, termasuk ratusan orang yang menonton dan bertaruh…

Puas lihat-lihat nggak terasa sudah sore, menurut panduan dianjurkan ke Gianicollo hill, dari sini bisa lihat seluruh kota Roma menjelang sunset. Tapi gue dan Santhy kecewa berat soalnya setelah perjalanan mendaki seperti di Florence, kita nggak berhasil masuk benteng, yang ternyata ditutup jam 6 sore. Padahal pemandangan cuma bisa dilihat dari puncak benteng Gianicollo 

Sebenarnya taman di sekitar benteng itu juga bagus, ada deretan pohon palem di sepanjang jalan masuk, ada maze dengan patung-patung pualam, dan beberapa fountain kecil. Tapi karena benteng ini bekas pertahanan Italy dari serangan Prancis di abad 18-19, dan suasana sudah remang-remang dan sepi, bulu kuduk kita berdua merinding seram!!! Nggak ada niat foto-foto deh, langsung naik bis kembali ke Roma Termini.

Gue dan Santhy masih sempatin mampir ke Trevi Fountain: megah dan cantik! Tradisi lempar coin tentu saja tidak dilewatkan, mudah-mudahan bisa dapet trip ke Italy lagi, but not in a rush  Sayang karena ramai banget, kita nggak bisa rendam kaki di fountain. Seperti di kota-kota lainnya banyak pedagang souvenir dari Bangladesh. Tapi kebetulan ada yang sempat tinggal di Jakarta 4 tahun, tahu Kampung Melayu sampai Kampung Rambutan segala dan akhirnya kita ngobrol pakai bahasa Indonesia hehehe, nggak kebayang di Italy gitu lho…

Sebelum meninggalkan Roma, masih sempat lihat Roman Imperium yang cuma reruntuhan batu abad awal masehi… Juga museum Monet, yang ngetop dengan karyanya yang serba oversize alias besar dan menggelembung, tapi kok ngetop ya?! Makanya pesan buat Made lukisan elo jangan dibuang, siapa tahu dalam 5-10 tahun ke depan bisa buat pameran di galeri hehehe…

Jam 10 perjalanan di Italy berakhir sudah! Gue dan Santhy lari kejar bus Terravision (shuttle bus khusus untuk Ryanair ke airport Rome Campione)… Menurut gue Rome itu kota yang paling cantik, apalagi kalau travel naik bus, sejauh mata memandang penuh piazza dari abad pertengahan. Sayangnya kusam dan berdebu, mungkin pemerintahnya bingung terlalu banyak yang harus di preservasi hehehe…

Part II. Back to the Netherlands, meeting good friends!

Sore sampai di Utrecht, gue ajak Santhy ke Utrecht Medical Centre, lihat rumah sakit, perpustakaan, dan musholanya. Nggak seperti di Erasmus University, mushola di Utrecht ada di lokasi ruang meditasi pasien. Walau kecil, bagus, bersih, dan menenangkan. Tempat wudhunya juga nyaman banget untuk level mushola, yang di Indonesia kalah deh!

Kamis, 21 April jam 4 sore ikut upacara pengukuhan Prof. Dick dan Prof. Bert, promotor gue, di Academic Gebouw Dom’s plein, Utrecht. Upacaranya sederhana banget, nggak seperti pengukuhan professor di UI. Apalagi kedua prof gue orangnya sangat sederhana, paginya masih ngantor, naik sepeda pula…

Sorenya ada acara dinner, yang mirip resepsi pernikahan di Jakarta, tapi sederhana cuma buat 100-150 orang. Santhy ketemu dengan semua kolega gue dari IRAS, khususnya ‘opa’ gue, dr. Evert, dan juga dr. Manon dari Julius Center. Malamnya ada acara Tango, lengkap dengan guru tari karena si kedua prof ini nggak bisa Tango  Tapi gue dan Santhy skip acara dinner dan Tango, kita pilih koopavond di HoogCatherijne 

Den Haag, hoofdstad…

Ada perubahan rencana, awalnya mau ke Eftelling tapi mirip Dufan, jadi ganti haluan ke Den Haag, biar lihat ibukota Belanda. Trip standar: mampir ke Kurhuis, pantai Schaveningen, masuk Binnenhof dan jalan sebentar di Centrum. Kita ikut sholat Jumat di Masjid Alhikmah di Moerwijk, ceramahnya sederhana dan bagus…

Sorenya mampir ke rumah Gingin dan Jamal, pasangan perawat Indonesia yang kerja di Den Haag sejak 2002. Gingin sedang hamil 9 bulan, insya Allah tanggal 19 Mei melahirkan, semoga persalinannya lancar amiin… Terima kasih dinner mie dan nasi gorengnya, Gin, enak banget lho!!!

Keukenhof, tulip garden…

Trip to Keukenhof on 23rd of April was a wrong choice. Hari sabtu cuaca di Belanda sedang bagus-bagusnya, jadi mungkin lebih dari 2000 orang berpikir itu saat yang paling bagus untuk ke Keukenhof… Jadilah pagi disambut antrian bus yang panjang di Leiden CS. Kali ini Adam’s family (Haris, Novi dan si mungil Adam) dan Ambar ikut dalam trip. 000_0811

Sampai di Keukenhof bukan bunga yang kelihatan, tapi lautan manusia. Bunganya bagus-bagus sih, tapi suasana sumpek terlalu banyak orang. Sampai pulang pun terjadi kegaduhan karena sekitar jam 4 ratusan orang memilih untuk pulang bersamaan sementara armada bus hanya 4 bus/jam. Terpaksa naik taxi ke Leiden CS lewat kota Lisse.

Tips: Ternyata kota Lisse jauh lebih cantik dibanding Keukenhof sendiri. Di Lisse ada hamparan padang tulip yang dikomersialkan (untuk dijual). Jadi sebenarnya cukup ke Lisse dan jalan sepanjang padang tulip warna-warni yang lebih cantik! At least Santhy bisa cerita bagaimana suasana di Keukenhof, extra ordinary!

My birthday, 24 April

At 00.00 I celebrated my birthday with Santhy! What a wonderful time to have her around! Thanks to Allah for all His bless, all opportunities given and turned me into what I am now…

Jam 9.30 kita berdua sudah sampai di Rotterdam, mampir dulu ke rumah Adam untuk titip lugage trip ke Paris dan bawakan oleh-oleh dari Eyang Putri Adam di Jakarta  Jam 10.30 nonton The Interpreter (Nicole Kidman dan Sean Penn) di Pathe Schouwburg, a good choice, khususnya bagi yang suka cerita detektif. 000_0831 Dari centrum kita mampir ke rumah Fatimah di Voorschoterlaan, ngobrol sambil minum maroccan tea.

Jam 3 kita naik metro ke Dijkzt, Erasmus MC, lihat lokasi NIHES, lalu ke Leuhaven lihat Erasmusburg dan Willemsburg. Jalan menyusuri maas dan berakhir ke Blaak, sayang bukan hari sabtu karena Blaak terkenal dengan vlooimarkt-nya 

000_0852Jam 6 sampai di rumah Ibu Taty Sunarya untuk rayakan ultah bersama Faisal, putra kedua beliau. Terima kasih ya Bu Taty dan teman-teman (Vica, Mukti, Made, Arie, Bili, Novi, dan Haris), walau tidak dengan keluarga sendiri, but you made my day complete! Jam 23.15 gue, Santhy dan Ambar memulai trip ke Paris dengan Eurolines!

Part III. Trip to Paris: What a (strange) journey!

Senin, 25 April, jam 06.00 sampai di stasiun Gallieni, Paris. Kali kedua trip ke kota yang sama, tetap excited karena kali ini dengan Santhy, never imagine before that both of us will be able to travel to Europe together!

Dengan percaya diri, karena sudah berpengalaman sebelumnya, bertiga kita naik metro ke youth hostel di Mairie de Clichy, lalu sarapan di resto kecil dengan warm chocolate dan real french croissant…

Perjalanan dimulai dengan mendaki ke Sacre cour, foto 000_0862dengan seniman jalanan di Montmartre, sampai mejeng di depan Moulin Rouge. Sore bertiga menyusuri Seine river, lihat Notredame, dan menikmati Eiffel Tower yang cantik dengan glitter lampu malamnya. Waktu itu masih ada planc Paris 2012, sayang London yang akhirnya berhak menjadi host Olympiade 2012…

000_0865Selasa 26 April, perjalanan dimulai dari Arch de Triumph, entrance gate to the star city, Paris… Next stop should be Louvre, yang berdasarkan rencana we’ll dedicate the 2nd day to see it’s colection. Sayang, ternyata hari Selasa adalah cleaning day-nya Louvre, museum ditutup sehari penuh… Dengan perasaan kecewa, akhirnya memutuskan untuk at least lihat Place de la Concorde dengan obelisque-nya. 

000_0866Siang kembali ke St Michel Notredame untuk lunch. St Michel ini pusat makan dan jajanan di paris, segala macam resto ada, dengan harga yang relatif murah: 10Eur termasuk makanan pembuka, utama, dan penutup. Setelah kenyang dan tenang, lanjut boat tour Seine river dari Notredame ke Eiffel Tower.

Eifeltour_1Dari Palais de Chaillot kita bisa buat foto Eiffel dengan angel yang paling bagus. Jam 5 cuaca mendung dan hujan mulai turun, jadi kita memutuskan untuk pulang dulu, istirahat sebentar…

The best part of the unexpected…

Jam 5.30 di stasiun Metro Mirosmenil, gue baru sadar kalau dompet hilang! Astagfirullah, masih untung passport gue simpan di tempat terpisah. Gue langsung telepon Haris dan Made minta nomor telp layanan 24 jam ABN Amro untuk blokir kartu kredit. Alhamdulillah dalam kurang lebih 1-2 jam kehilangan tidak ada transaksi.

Ditemani Santhy dan Ambar gue ke kantor polisi Mairie de Clichy untuk lapor kehilangan soalnya residence permit gue ada di dompet. Gue langsung terbayang ribetnya urusan dengan foreign police dan stadhuis di Belanda. Untung ada officer Stephanie, satu-satunya officer yang bisa bahasa Inggris di kantor tersebut, baik dan ko-operatif. Gue dibuatkan surat resmi kehilangan dari police dan dikasih nomor KBRI di Paris.

Rabu pagi, masih dalam bad mood jam 9.30 sampai juga di KBRI, tentu sesudah nyasar-nyasar karena peta KBRI dari internet tidak jelas. Ternyata, menurut KBRI bagian visa, karena passport gue nggak hilang gue nggak perlu lapor KBRI, cukup datang ke foreign police Belanda dengan bekal declaration dari kepolisian Prancis. Wah, agak mangkel juga, tahu gitu kan nggak usah repot-repot ke KBRI.

Yah, daripada bete, kita kembali ke St. Michel untuk lunch dan mampir ke Sorborne University of Paris. The best part of the day: we had a good lunch dan bisa mejeng di depan Sorborne (walau nggak bisa masuk karena penjagaan satpam extra ketat).

GaredunordGue sudah berpikir at least perjalan ke Paris berakhir juga, gue sudah sibuk mikir kamis harus ke foreign police dan stadhuis, mumpung koopavond semua buka sampai jam 9 malam. Nggak disangka jam 3 sore gue ditelepon dari kedutaan yang kasih tahu kalau ada orang yang kembalikan dompet gue ke kedutaan. Antara excited dan bingung karena bus akan berangkat jam 4 padahal perjalanan ke KBRI at least 45 menit. Akhirnya gue putusin ke KBRI lagi daripada urusan panjang di Belanda, lebih baik ketinggalan bus. Di KBRI gue disambut staf di sana yang juga takjub kalau dompet gue bisa dikembalikan secepat itu, Alhamdulillah, mungkin karena nggak ada uangnya jadi kalaupun benar dicopet yang nyopet juga desperado…

Thalys_vipSampai di Gallieni jam 4.30 sudah pasti tertinggal bus, so, finally we went to Gare du Nord, to take the trein to Rotterdam. The craziest thing was we could only take Thalys, which was the most expensive train ever! Yah dari dulu penasaran juga sih kayak apa rasanya naik Thalys, nggak nyangka akhirnya naik juga tapi dalam situasi seperti itu…

End of Journey…

Kamis, 28 April dengan berat hati gue mengantar Santhy kembali ke Schiphol. I was so sad, after those journey Santhy had to go back to Jakarta and I had to go back to work  Hope to see you again soon, sist! And to all my friends many thanks for your help and sharing good times during her trip here…

Warm regards,
Eva Suarthana, MD, MSc
Padangstraat 53 3531 TB Utrecht, The Netherlands
Email to e.suarthana@iras.uu.nl
Office Tel. +31 30 253 9448